Jumat, 15 Maret 2013

HATI YANG SEMPURNA


“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13)

  Seorang pemuda dikenal memiliki hati yang paling indah di seluruh lembah. Banyak orang mengagumi hati pemuda itu. Sempurna, tidak ada tanda atau cacat di dalamnya. Orang muda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah sampai suatu hari datang seorang lelaki dengan hati yang berdegup kuat namun penuh bekas luka.

Di sana-sini ada banyak lekukan dan benjolan karena banyak kepingan hati terletak tidak pas. Bahkan, di beberapa tempat ada ruang-ruang

KASIH YANG MENYATUKAN

Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. (1 Petrus 4:8).
Hidup dalam sebuah ikatan membutuhkan kasih. Ikatan suami istri, ikatan keluarga, ikatan rohani yaitu gereja kita membutuhkan kasih. Rasul Petrus memberi nasehat kepada jemaad di Asia kecil, penerima suratnya agar mereka saling mengasihi, sebab kasih menutupi banyak dosa. Membangun hubungan tidak akan selalu mulus, tidak akan berlangsung indah-indah saja. Dosa pasti muncul, sebab justru ketika orang percaya berkomitmen untuk saling mengasihi, Iblis tidak senang, ia akan berusaha menghancurkan. Dosa dapat menyebabkan gesekan, kesalahpahaman bahkan pertengkaran. Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan kasih. Nah dalam hal mengasihi, harus ada yang memulai. Jika masing masing bersikeras merasa diri benar, maka kasih tidak akan muncul. Harus ada seseorang yang sadar, bahwa mereka bersaudara, bahwa mereka terikat dalam suatu ikatan komitmen hidup bersama, tidak ada kata berpisah, dan harus sadar bahwa dalam setiap pertengkaran tidak ada yang 100% benar dan 100% salah, pasti kedua belah pihak mempunyai andil sekecil apapun.

Dalam suatu percekcokan yang paling saya ingat antara Bapak dan Ibu saya ialah ketika cekcok, bapak berdiri dari tempat duduk, mengambil dua lembar kertas dan berkata pada Ibu, “ayo daftarkan semua hal yang kita tidak saling sukai”. Ibu kemudian mulai menulis . Bapak memandang Ibu sejenak, dan kemudian menulis dikertasnya. Ibu menulis lagi, sejenak berhenti memandang Bapak, kemudian menulis lagi, demikian juga dengan Bapak. Akhirnya keduanya selesai. “ayo kita tukar kertas” kata Bapak, mereka saling memberikan daftar keluhan mereka, “kembalikan punyaku.” Kata Ibu ketika melihat kertas Bapak. Ternyata dari atas sampai kebawah kertas Bapak menulis, “aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.”

MOTIVASI: Ketika saudara terlibat konflik, ingatlah bahwa saudara mempunyai andil dalam menyebabkannya, ingatlah komitmen saudara untuk hidup bersama. Ulurkan kasih.

MELAYANI DENGAN HATI

”Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani,
jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; ...
Siapa yang yang membagi-bagikan sesuatu,hendaklah ia
melakukannya dengan hati yang ikhlas ....” (Roma 12:7-8)

Meski hidup dalam segala keterbatasan tidak pernah menyurutkan saya untuk tidak melayani Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang diproklamirkan saat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi puluhan tahun yang lalu, telah mengubah cara pandang saya dalam menjalani kehidupan. Keinginan hati yang paling dalam untuk berusaha menyukakan hati Tuhan Yesus melahirkan ide untuk berkarya dengan apa yang saya bisa lakukan salah satunya adalah melalui tulisan. 

Kamis, 14 Maret 2013

KASIH YANG NYATA

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11)
Di biara Maulbrom di pegunungan Alpen, Austria ada mata air pegunungan yang khas. Ia mengalir ke luar dari sisi bukit, melalui sebatang pohon yang sudah dikosongkan bagian dalamnya sehingga menjadi pipa, dan memancar dengan suara gemericik ke dalam sebatang pohon lainnya yang sudah dikosongkan juga. Di dekatnya dalam bahasa Jerman ditulis: “Bila orang datang kemari dan meminum airku, apakah kamu kira mereka akan berterima kasih kepada-ku? Tapi tidak apa-apa, aku tetap akan mengalirkan, bergemericik dan terus menyanyi. Betapa indah dan sederhananya hidupku: aku memberi dan terus memberi.”

SETIA DALAM KEKOSONGAN

Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku ermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku (Rut 1:16)
"Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang." Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia? Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?