“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13)
Seorang
pemuda dikenal memiliki hati yang paling indah di seluruh lembah.
Banyak orang mengagumi hati pemuda itu. Sempurna, tidak ada tanda atau
cacat di dalamnya. Orang muda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan
hatinya yang indah sampai suatu hari datang seorang lelaki dengan hati
yang berdegup kuat namun penuh bekas luka.
Di sana-sini
ada banyak lekukan dan benjolan karena banyak kepingan hati terletak
tidak pas. Bahkan, di beberapa tempat ada ruang-ruang
kosong seperti ada
bagian yang hilang. Hal ini mendorong sang pemuda untuk membandingkan
dan mengejeknya, “Lihat hatimu dan hatimu. Hatiku sempurna dan hatimu
berantakan bekas luka.”
“Ya,” kata orang tua, “Hatimu
memang mulus sempurna, tapi aku tidak mau bertukar. Tiap bekas luka ini
mewakili seseorang yang telah kuberi cintaku. Aku mencabik sekeping
hatiku dan memberikannya kepada mereka, dan sering mereka memberiku
kepingan hati mereka untuk menutupi ruang kosong di hatiku. Tapi, karena
kepingan-kepingan tidak tepat, hatiku tidak mulus dan berlekuk-lekuk.
Aku menghargainya karena itu mengingatkanku pada cinta di antara kami.
Kadang
aku memberi kepingan hatiku dan orang lain tidak memberi kembali
kepingan hatinya kepadaku. Ini meninggalkan lubang-lubang luka. Meskipun
bekas cabikan itu menyakitkan, namun kubiarkan tetap terbuka untuk
mengingatkanku tentang cinta yang pernah kuberikan pada orang-orang ini.
Mungkin suatu hari nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang yang
kosong itu.”
Bagaimana dengan hati Anda Sahabat SMH? Penuh ‘cabikan luka’ atau masih ‘mulus-mulus’ saja?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar